47 Cerita Mukidi Terbaru Untuk WhatsApp BBM Ala Riajenaka.com

cerita lucu mukidi
6. Cerita Lucu Mukidi: Lapar Lagi

Ibu: “Mukidi, mandi dulu udah sore.”

Mukidi: “Bentar, masih asik main nih bu.”

Ibu: “Mainnya di lanjut nanti. Sekarang mandi dulu.”

Mukidi: “Gak usah mandi ah bu ntar habis mandi main lagi juga kotor lagi.”

Ibu: ‘Bandel!’ (Lalu menghampiri Si Mukidi, sambil di ketok kepala Mukidi sama gayung).

Mukidi: “Iya, Iya, bu saya mandi.” (Teriak Mukidi sambil lari ke kamar mandi).

Habis mandi seperti biasa, Mukidi lihat TV sambil makan, di hampiri ibunya di dapur untuk minta makan.

Mukidi: “Bu, makan. Lapar nih.”

Ibu: “Gak usah makan kidi ntar juga lapar lagi!”

Mukidi: !&!#$!%


7. Cerita Lucu Mukidi: Poligami

Mukidi: “Mah, maen poli yukk?”

Markonah: “Ih, papah so sweet. Poli Pantai ya pah?”

Mukidi: “Bukan mah, Poligami.”

Markonah: (Ambil piso di dapur)


8. Cerita Lucu Mukidi: Hamil 3 Bulan

Markonah: “Papa. Buka bajunya donk.”

Mukidi: “Ah mama, masih siang ah, malu ada Omas.”

Markonah: “Tapi mama udah gak tahan nih.”

Mukidi: “Aduh mama.” (Buka baju).

Markonah: “Celananya juga donk.” (Manja).

Mukidi: “Ah mama.” (Buka celana dan tinggal pake singlet dan celana pendek).

Markonah: “Berdiri donk pa.”

Mukidi: “Iya Iya. (Beranjak dari ranjang) Oke, apa lagi?”

Markonah: “keluar donk pa.”

Mukidi: “Maksudnya ma?”

Markonah: “MINGGAT KAMU, KURANG AJARR!! Liat Omas hamil 3 bulan karna ulah kamu!”

Mukidi: (Nangis).


9. Cerita Lucu Mukidi: Duduk di Pangkuan Papa

Mukiran, anak laki laki Mukidi bercerita kepada mamanya tentang pengalaman naik angkot bersama ayahnya.

Mukiran: “Mama, tadi waktu di angkot, papa minta saya nyerahin tempat duduk saya buat penumpang cewek.”

Markonah: “Memang harus begitu lah nak, itu namanya menghargai perempuan. Lagian kamu kan sudah cukup besar..”

Mukiran: “Loh. Tapi Ma, aku kan waktu itu duduk di pangkuan Papa.”

Markonah: &*#%!


10. Cerita Lucu Mukidi: Wajah Baru

Seorang pekerja toko buku sedang sibuk beres-beres, dia terkejut karena ada Pria yang menghampiri dan menegurnya.

Mukidi: “Saya nyaris tidak mengenalimu lagi. Kamu berubah banyak sekali. Rambutmu sudah lain. Kamu kelihatan lebih pendek, sudah tidak pakai kacamata. Apa yang terjadi denganmu, Wakijan?”

Pekerja: “Tapi saya bukan Wakijan!”

Mukidi: “Luar biasa! Namamu pun sudah kau ganti juga rupanya!”


loading...