47 Cerita Mukidi Terbaru Untuk WhatsApp BBM Ala Riajenaka.com

41. Cerita Mukidi: Teman Saya Mana

Seorang pria sok akrab tiba-tiba mendekati Mukidi sambil mengulurkan tangan,

Sukilah: “Loh, kamu kan aduh sudah berapa tahun gak ketemu ya?”

Mukidi: “Mukidi.” (Menerima uluran tangan pria misterius tadi sambil berpikir keras).

Sukilah: “Ya ya Mukidi aduh masa lupa sih? Sukilah, Sukilah teman SMP, masih ingat Tasripin, Kamid, Wartam.”

Mukidi Masih bingung. Tapi asal mengangguk gak apalah pikirnya, sambil mengingat-ingat nama-nama aneh itu.

Sukilah: “Wah, sudah hampir Maghrib nih, kita buka bersama yuk?”

Mukidi: “Aku eh sebetulnya mau buru-buru pulang.” (Pura-pura menolak).

Sukilah: “Ayolah sekalian bernostalgia.”

Mukidi yang lagi bokek ikut aja ke warung Padang, lagi pula sejak kasus daging sapi impor dia sudah tidak pernah makan dendeng balado.

Setelah adzan berkumandang, mereka menikmati takjil gratis lalu apa saja yang didekatnya diembat, Mukidi tidak lupa pesan jus duren. Dia sudah lupa menanyakan jati diri temannya tadi.

Mukidi: “Ayo di sikat saja.”

Sukilah juga tak kalah beringas mengambil lauk di hadapannya.

(Beberapa saat kemudian).

Sukilah: “Eh ngomong-ngomong aku ke mushola dulu ya, nanti gantian. Kamu terusin makan aja, habiskan jusmu.”

Mukidi: (Mengangguk).

Sukilah yang rupanya ahli ibadah itu rupanya lama juga di mushola sudah lebih 30 menit. Mukidi sudah khawatir kehabisan waktu Maghrib.

Mukidi: “Uda (Memanggil pelayan) Musholanya di sebelah mana?”

Pelayan: “Wah gak ada mushola pak, adanya masjid 50 meter dari sini.”

Mukidi: “Teman saya tadi mana?”

Pelayan: “Teman yang mana pak?”


42. Cerita Mukidi: Cabe Rawit

Suatu hari seorang atlet binaraga bernama Mukidi belanja ke sebuah warung. Kebetulan si penjaga warung itu adalah seorang janda muda betubuh sexy, tapi menderita gangguan pendengaran dan sering telat mikir.

Mukidi: “Ada telor, Mbak?”

Janda: “Apa Kang? Kurang jelas.”

Mukidi: “Telor, Mbak.”

Janda: “Gimana, Kang?”

Tak mau bertele-tele, Mukidi pun langsung melipat lengan bajunya dan memperagakan otot tangannya yang menonjol bulat mirip telor.

Janda: :Oh, telor. Ada, Kang. Silahkan. mau beli apa lagi, Kang?”

Mukidi: “Beli tahu deh sekalian.”

Janda: “Apa Kang? Gak kedengeran.”

Mukidi: “Tahuu, Mbak!”

Janda: “Gimana Kang?”

Mukidi lalu melepaskan kancing baju dan memperlihatkan otot perutnya yang membentuk six packs alias kotak-kotak mirip tahu Bandung.

Janda: (Paham) “Oh, tahu ada. Sebentar ya Kang… (Sambil membungkus beberapa tahu) Lalu mau beli apa lagi, Kang?”

Mukidi: “Saya ingin terong juga, Mbak. Kayaknya enak oseng2 tahu dicampur terong.”

Janda: “Apa Kang?”

Mukidi: “Teroong!”

Janda: “Apaan, Kang. Kurang jelas!”

Dengan kesal Mukidi langsung membuka celana dan mempertontonkan isinya.

Janda: (Tersenyum sambil bergumam) “Oh.. cabe rawit bilang dong yang jelas…”

Mukidi: “jangkrikk.” (Sambil nendang kursi).


43. Cerita Mukidi: Sandera DiDalam Perut

Markonah Mukidi pulang kerja agak cepat,

Mukidi: (Heran) “Ma, tumben pulang lebih cepat. Semua oke?”

Markonah: (Sambil terisak) “Mama di PHK! Mana gaji belum dibayar lagi! Mama sedih, Pa!”

Mukidi: “Apa? Kok bisa? Tau gitu harusnya Mama ambil aja inventaris kantor untuk gantinya!”

Markonah: “Mana bisa, kan ada CCTV kalo ketauan malah jadi urusan.”

Mukidi: “Hmm, kalo gitu kita tuntut saja pake pengacara, bagaimna?”

Markonah: “Mending kalo MENANG, kalo KALAH?”

Mukidi: “Iya juga, ya.”

Markonah: “Tapi tenang saja Pa Mama sudah sandera anaknya sebagai jaminan biar si Boss mau bayar!”

Mukidi: “Wuidih cerdas, berani juga Mama. Jadi, sekarang dimana anaknya?”

Markonah: “Ini dalam perut Mama!”

Mukidi: “Hah…”


44. Analisa Mukidi

Situasi ke-1

Suatu hari orang kampung berniat untuk melakukan sholat hajat memohon turunnya hujan. Waktu mau sholat banyak orang yang datang berkumpul tetapi hanya seorang anak yang membawa payung. Karena dia yakin doanya akan dikabulkan Allah.

Itulah yang dinamakan KEYAKINAN.

Situasi ke-2

Bila Anda melambungkan bayi ke udara, dia tertawa sebab dia tahu Anda akan dapat menangkapnya.

Itulah yang dinamakan KEPERCAYAAN.

Situasi ke-3

Setiap malam ketika kita tidur, tidak ada jaminan kita akan hidup lagi untuk hari esok tetapi kita tetap set alarm untuk kita bangun pada esok hari.

Itulah yang dinamakan HARAPAN.

Teruslah memasang “KEYAKINAN, KEPERCAYAAN, dan HARAPAN.”

Situasi ke-4

Bila Anda bertemu seorang wanita cantik dan dari keluarga baik2, Anda ingin menikahinya, tetapi wajah Istri Anda selalu muncul di pikiran.

Itulah yang dinamakan KETAKUTAN.

Situasi ke-5

Anda di situasi 4 tapi tetap melamar wanita tersebut.

Itulah yang dinamakan KEBERANIAN.

Situasi ke-6

Saat melamar wanita nan cantik itu, tiba2 Istri Anda muncul.

Itulah yang dinamakan KETAHUAN.

Situasi ke-7

Ketika Anda pada situasi 6. Istri datang dengan anak, serta keluarga besar mengizinkan acara tersebut tetap berjalan demi menjaga nama baik Anda.

Itulah yang dinamakan KEAJAIBAN.

Situasi ke-8

Setelah Anda pulang dan tampak segalanya berjalan dengan baik, aman, dan tentram Istri Anda tersenyum sambil menyuguhkan kopi kesukaan Anda lalu tiba-tiba Anda tak sadarkan diri.

Itulah yang dinamakan KERACUNAN.


45. Cerita Mukidi: Jalan Tol

Mukidi ingin keliling Jakarta, dengan naik metromini. Diam-diam ia mengamati segala yang terjadi di dalam metromini. Termasuk tingkah laku kernet & penumpang metromini tersebut.

(Tak lama kemudian).

Kernet: “Dirman, dirman, dirman.” (Tanda bahwa mertomini telah sampai di jl sudirman).

Penumpang laki-laki: (Teriak) “Kiri!” (Dan turunlah penumpang tersebut).

(Selang berapa lama).

Kernet: (Teriak) “Kartini, kartini, kartini.”

Cewek muda: (Nyeletuk). “Kiri!” (Lalu cewek tersebut pun turun).

(Beberapa lama).

Kernet: (Teriak lagi) “Wahidin, wahidin, wahidin.”

Cowok: “Kiri!”

(Tak selang lama).

Kernet: (Teriak lagi). “GATOT SUBROTO! GATOT SUBROTOO!

Pemuda ganteng berkumis tebal: “Kiri!” (Maka turunlah si kumis itu).

Maka, tinggallah seorang diri MUKIDI dalam metromini. Dengan hati ngedumel, lama lama jengkel juga dia. Lalu dicoleklah si kernet,

Mukidi: (Dengan nada marah) “Korang ajar sampiyan ya. Dari tadi orang-orang sampiyan panggil. Lha nama saya ndak sampiyan nggil panggil! Kalo begini caranya, kapan saya toron!”

(Untung si kernet tanggap).

Kernet: “Siapa nama bapak?”

Mukidi: “Namaku MUKIDI.”

Kernet: (Langsung teriak) “MUKIDI, MUKIDI, MUKIDI!”

MUKIDI: (Lega) “Naah. Begitu! Kiri!” (Maka turunlah MUKIDI di jalan tol).

Bagi yang menemukan MUKIDI harap menghubungi keluarganya di Sumenep. Selamat berkarya semuanya. Mukidi saiki lagi nunggu angkot neng tol.


loading...