7 Cerita Lucu Humor Imlek Yang Bikin Ketawa

Kumpulan Cerita Lucu Tentang Imlek Terbaru – Anda penggemar cerita lucu? Ingin membaca cerita pendek paling lucu yang konyol, gokil, dan kocak? riajenaka.com tempatnya. Koleksi cerita humor disini terdiri dari beragam topik yang bisa membuat Anda tertawa lebih ngakak dari sebelumnya. Setiap terbitan artikel cerita lucu humor hanya disajikan dalam satu tema supaya Anda lebih puas dan terhibur.

Posting terbaru kali ini mengupas cerita lucu Imlek. Silahkan disimak dengan baik dan siapkan ekstra energi untuk tertawa setengah mati. Kumpulan cerita lucu banget tentang Imlek dikumpulkan dari berbagai sumber gokil cerita pendek lucu. Tentunya cerita humor Imlek paling lucu yang dipilih sudah lulus uji standar kelayakan ngakak dan konyol minimum yang disyaratkan oleh pemerintah. Akhir kata, selamat menikmati cerita lucu gokil bikin ngakak dibawah ini.

7 Cerita Lucu Humor Imlek Yang Bikin Ketawa

1. Cerita Lucu Asal Mula Istilah Imlek

Pada abad ke 7 masehi, di tanah Jawa hiduplah seorang janda miskin tua bernama Mbok Nunung bersama anak gadisnya yang pemalas bernama Imah. Tiap hari kerja si Imah hanya tidur melulu. Dia sama sekali tak mau membantu ibunya yang harus kerja banting tulang. Itulah sebabnya, di usia 25 tahun tak ada satupun pemuda yang mau melamarnya. Padahal pada masa itu, usia segitu termasuk kategori jomblo akut. Karena itulah Mbok Nunung berdoa pada sang hyang widi agar anaknya lekas mendapat jodoh.

Pada suatu malam, saat sedang berdoa, sayub-sayub Mbok Nunung mendengar suara meriah seperti sedang ada pesta disertai bunyi ledakan bersahutan. Makin lama suara itu terdengar makin mendekat. Belum hilang rasa heran Mbok Nunung, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Mbok Nunungpun membukakan pintu. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati serombongan orang asing berwajah sipit berbaju serba warna merah dan membawa bola api di depan pintu rumahnya. Mbok Nunung ketakutan setengah mati sampai terkencing kencing. Apalagi dia melihat sebagian dari mereka menyalakan petir yang bunyinya memekakkan telinga.

Tapi ketakutan Mbok Nunung mulai sirna saat melihat orang asing paling depan yang begitu tampan mendekat dengan senyum ramah.

Pemuda: “Gong xi fat chai.”(sambil menyerahkan sekeranjang kue serta amplop berwarna merah).

Mbok Nunung menyangka si pemuda hendak melamar anaknya. Maka dengan girang dia menerima sekeranjang kue dan amplop merah yang dikiranya adalah seserahan (lamaran).

Mbok Nunung: “Lamaranmu tak tompo, wong bagus. (lamaran kamu saya terima, wahai pemuda tampan)”

(Si pemuda yang tak tahu arti kata-kata Mbok Nunung mengira disuruh masuk).

Pemuda: “Kamsia, kamsia.”

Mbok Nunung mengira si pemuda menyuruh memanggil si Imah. Maka, dengan tergopoh-gopoh simbok sok tahu ini megguncang-guncang tubuh sang anak yang tertidur pulas sambil memanggil-manggil namanya (Im = Imah) agar melek (bangun)

Mbok Nunung: “Im, melek! Im, melek! Im, melek!!”

Karena tak bangun juga, simbok terus mengulang kata-katanya tersebut. Mungkin karena capek, kalimat yang semula ‘Im, melek’ berubah lebih singkat jadi, ‘Imelek, Imlek, Imlek.’

Kata-kata ‘Imlek’ itu membuat terharu si pemuda. Dia mengira simbok tengah mengucap do’a syukur pada Tuhan atas sekeranjang kue serta amplop merah yang barusan diberikannya.

Pemuda: (Dalam pikirannya) “Alangkah besar rasa syukur penduduk negeri ini. Baru dikasih sekeranjang kue sama amplop berisi duit gopek aja mengucap syukur tiada henti sepanjang malam. Ini harus dicontoh oleh seluruh rakyat Cina.”

Pemuda (calon mantu Mbok Nunung).tersebut belakangan diketahui sebagai raja dari Cina yang sedang menjajaki peluang dagang di pulau Jawa. Untuk mengenang kejadian tersebut, sang raja menetapkan istilah Imlek untuk menyebut tahun baru Cina. Dan tiap orang harus mengucapkan kata Gong Xi Fat Chai, memberikan kue keranjang plus amplop merah (angpao), membawa bola api (lampion) serta menyalakan petir (mercon / kembang api) pada`saat hari raya Imlek.


2. Cerita Lucu Imlek: Berbagai Macam Shio

Ompung Bagong pergi ke rumah sakit di Medan untuk check up, kebetulan disana banyak antri juga pasien-pasein lain yang semuanya etnis Tionghoa. Lalu Ompung Bagong duduk menunggu giliran. sementara itu orang-orang keturunan Tionghoa tadi, yang kebetulan semuanya ibu-ibu muda, asyik ngobrol soal shio menjelang tahun baru imlek.

Oneng: “Suami lu apa Omas?”

Omas: “Suami gue sih monyet. Suami lu?”

Oneng: “Suami gue babi, kayak mertua laki-laki gue. Babi juga.”

Yati Pesek: “Oh, gue kira suami elu bedua sama-sama monyet persis kayak suami gue.”

Ompung Bagong: (Heran dan terus mendengar).

Oneng: “Oh enggak, suami ama mertua gue sama-sama babi. Maka sifatnya sama kayak babi.”

Omas: “Oh gitu, ipar lu yang buka bengkel di Thamrin apa Yati?”

Yati Pesek: “Tikus, sama kayak istrinya juga tuh.”

Ompung Bagong: (Mulai emosi).

Yati Pesek: “Oneng, ipar lu yang ketemu di Sun Plaza kemarin itu apa ya?”

Oneng: “Kambing, tapi anak-anaknya semua babi.”

Ompung Bagong: (Tak tahan lagi mendengarnya dan berteriak) “Kurang ajar kalian semua ya!, dasar ibu ibu muda yang nggak tau di untung dan gak tau terimakasih. Masa suami, mertua dan anak sendiri dikatain babi, anjing, tikus. dasar ibu-ibu nggak tahu di untung! Ingat ini ya. Kalo kalian semua menantu ku sudah ku usir semua biar tahu rasa!


3. Cerita Lucu Imlek: Open House

Ateng: “Cici! Ntar kalo imlek lu datang ke rumah gw ya!”

Nunung: “Siiip deh, Teng! Eh beneren nih waktu imlek lu pake open house segala?”

Ateng: “Iya Ci! Setahun sekali lah, itung-itung silaturahim sama warga di RW kita!”

Nunung: “BTW, lu ada keturunan Cina juga rupanya? Dari siapa, Teng? Bokap? Nyokap?”

Ateng: “HP gw yang asalnya dari Cina, Ci!”

Nunung: “Bajiguuur lu, Teng!”


4. Cerita Lucu Merayakan Imlek Di Beijing

Gareng dan Ateng baru saja pulang dari pesta Tahun Baru Cina di Beijing ketika mereka melihat bahwa menu dari restoran sebelah hotel yang diselipkan di bawah pintu kamar mereka. Karena iseng, mereka memutuskan untuk merayakan Tahun Baru Imlek dengan membeli makanan di restoran itu untuk dibawa pulang dimakan di kamar. Ateng, saudaranya Gareng yang asli dari sana keluar keluar dari pintu untuk mengambil makanan mereka.

Gareng: “Tolong nanti aku dibawakan 10 bungkus nomor 234 saat balik ke sini.”

(Ateng kembali dengan chow mein (mie goreng) ayam dan babi panggang dan 10 porsi nasi goreng telur).

Gareng: “Mana rokok saya?”

Ateng: “Rokok apa, kamu kan meminta 10 bungkus menu nomor 234 dan itulah yang kamu dapat, nasi goreng telur untuk memberi makan seluruh orang satu lantai hotel ini.”

Gareng: “Duh, saya lupa, padahal di Indonesia 234 (Dji Sam Soe) itu merek rokok.”


5. Kisah Lucu Kelaparan Setelah Imlek

Pulang merayakan pesta tahun baru imlek, Mono sangat lapar, sehingga ia pergi ke sebuah minimarket untuk membeli kue. Ketika Mono makan kue, ia merasa bahwa ia masih lapar, sehingga ia makan kue yang kedua.

Bahkan kemudian ia tidak segera kenyang dan makan enam kue berturut-turut, tetapi ia tidak puas rasa laparnya. Sesudah Mono makan kue yang ketujuh ia merasa kenyang. Lalu, tiba-tiba, ia memiliki perasaan menyesal.

Mono: “Ah, jika aku tahu ini sebelumnya, aku akan makan kue ketujuh dulu dan itu akan cukup membuat kenyang dan aku tidak perlu membeli 6 kue yang sebelumnya.”


6. Cerita Lucu Imlek: Seramnya Naik Bis Tingkat

Malam ini udara dingin sekali. Dua hari lagi hari raya Imlek akan tiba. Oneng yang sedang berdiri di halte, mengusap-usap telapak tangannya untuk mengusir dingin. Sayup-sayup terdengar suara burung hantu di kejauhan. Oneng mengutuk bossnya dalam hati, karena memaksanya berangkat pada jam yang sangat tidak menyenangkan ini.

Oneng ditugaskan untuk mengantarkan sebuah paket ke sebuah gudang tua di ujung kota. Perjalanan ke sana memerlukan waktu sekitar setengah jam, dan satu-satunya jenis angkutan umum yang tersedia adalah bis bertingkat yang sudah tua dan jalannya lambat.

Setelah menunggu lama, akhirnya bis itu muncul. Oneng pun naik. Hanya Ada beberapa penumpang saja yang terlihat. Oneng terus melangkah menuju tangga karena dia memutuskan untuk duduk di tingkat atas saja. Tetapi langkahnya dihentikan oleh seorang nenek keriput yang duduk di dekat tangga.

Nenek: “Jangan naik ke atas, nak. Di atas berbahaya.”

Oneng terkejut. Dia pernah mendengar kisah-kisah menyeramkan tentang bis bertingkat seperti yang pernah diceritakan teman-temannya. Karena Merasa ngeri, Oneng pun mengurungkan niatnya untuk naik ke atas. Setelah memilih sebuah bangku yang agak jauh, Oneng duduk sambil membayangkan hal-hal yang mengerikan yang mungkin terjadi.

Perjalanan 30 menit yang menegangkan itu pun akhirnya dapat dilalui. Oneng telah sampai di tempat tujuannya, ketika bis bertingkat itu berhenti di sebuah halte. Oneng turun sambil menarik nafas lega, sementara bis itu kembali melanjutkan perjalanannya.

Keesokan malamnya, satu malam sebelum malam Imlek, Oneng kembali Ditugaskan bossnya untuk mengantarkan sebuah paket lagi ke gudang yang sama. Oneng pun kembali berangkat menuju halte. Bis yang sama dengan bis yang kemarin muncul lagi. Oneng naik. Penumpang bis yang terlihat hanya beberapa orang saja. Oneng lalu berjalan menuju tangga. Tetapi di sana Oneng kembali dihentikan oleh seorang nenek keriput yang duduk di dekat tangga. Nenek yang sama dengan yang kemarin.

Nenek: “Jangan naik ke atas, nak. Di atas berbahaya.”

Oneng teringat dengan pengalamannya kemarin. Ia merasa takut dan memilih untuk duduk di sebuah bangku yang agak jauh dari tangga. Setelah 30 menit, bis bertingkat itu akhirnya berhenti di halte tempat tujuan Oneng. Oneng turun dengan perasaan lega. Dan bis itu pun melanjutkan perjalanan kembali.

Keesokan harinya, tepat pada malam Imlek, Oneng kembali diberi tugas Oleh bossnya untuk mengantarkan sebuah paket lagi ke gudang yang sama Dengan sebelumnya. Oneng menunggu bis di halte sambil melihat ke sekelilingnya. Suasana kota terlihat meriah. Lampion dan hiasan berwarna warni Menghiasi sudut-sudut jalan. Ketika bis bertingkat yang ditunggunya datang, Oneng naik. Bis itu adalah bis yang sama dengan yang kemarin.

Oneng melihat ke arah bangku di dekat tangga, dan benar saja, nenek yang sama dengan yang kemarin terlihat duduk di situ. Oneng lalu mendekati nenek keriput itu.

Oneng: “Nek, apapun Yang akan Nenek katakan, saya tetap akan naik dan duduk di atas. Malam ini adalah malam Imlek dan suasana kota begitu meriahnya, saya tidak takut akan sesuatupun!”

Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari nenek tua itu, Oneng lalu naik ke atas. Tidak ada penumpang satu orang pun di atas. Oneng memilih untuk duduk di dekat jendela, dan menunggu dengan perasaan tegang. Tetapi hingga 30 menit berlalu, tidak terjadi apa-apa. Akhirnya Oneng sampai di tempat tujuan, dan bis itu berhenti di sebuah halte. Oneng turun dari tingkat atas dan mencari si nenek keriput didekat tangga.

Oneng: (Setelah bertemu) “Nek, kenapa sih, Nenek melarang penumpang untuk naik ke atas? Saya sudah mencoba sendiri, ternyata di atas tidak ada apa-apa yang membahayakan. Sebenarnya ada apa sih, nek?”

Nenek: (Sambil menunjukkan jarinya ke atas) “Di atas berbahaya, nak. Tidak ada supirnya.”


7. Cerita Lucu Anggur Di Malam Tahun Baru Imlek

Ateng adalah orang yang sangat kaya yang sengaja memberi tugas sulit pada tetangganya yang merupakan buruh tani miskin yang bernama Petruk. Pada malam perayaan Tahun Baru Imlek di China,

Ateng: (Sambil memberikan Petruk botol kosong) “Belikan aku sebotol anggur.”

Petruk: “Bagaimana saya bisa membeli anggur tanpa uang sama sekali?”

Ateng: (Dengan santai) “Siapa pun bisa membeli anggur dengan uang. Dibutuhkan keterampilan nyata untuk membeli anggur tanpa uang.”

(Waktu berlalu dan Petruk akhirnya kembali dengan botol kosong. Dia menyerahkan botol ke Ateng dan bergumam).
Petruk: “Nikmati anggurnya, silakan.”

Ateng: (Menatap botol kosong dengan kebingungan) “Tidak ada anggur, bagaimana saya bisa menikmati ini?”

Petruk: (Dengan wajah lurus) “Siapapun dapat menikmati anggur jika ada. Dibutuhkan keterampilan nyata untuk menikmati anggur ketika tidak ada.”

Ateng: (Membuat suara tersedak namun tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun).

loading...